Fraktur adalah terputusnya kontiunitas
tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yang biasanya di sebabkan oleh
trauma/rudapaksa atau tenaga fisik yang di tentukan jenis dan luas
trauma.(lukman 2007,hal 26)
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya
kontinuitas jaringan dan atau tulang yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.
(Arif Mansjoer, 2000, hal 346).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang
dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Brunner & Suddath, 2002, hal
2357).
Patah batang tibia merupakan fraktur yang
sering terjadi dibanding fraktur batang tulang panjang lainnya. (Sjamjuhidajat
& Wim de Jong, 2004, hal 886)
B.Manifestasi Klinis
Menurut Brunner dan Suddart
(2002; 2358) Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi,
deformitas, pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan
warna.
1.Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya
sampai fragmen tulang diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur
merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untum meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian
yang tak dapat digunakan dan cenderung bergerak secara alamiah (gerakan luar
biasa) bukannya tetap rigid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur
lengan atau tungkai menyebabkan deformitas (terliahat maupun teraba)
ekstermitas yang bisa diketahui dengan membandingkan ekstermitas yang normal.
Ekstermitas tak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot
bergantung pada integritas tulang tempat melekatnya otot.
3. Pada fraktur tulang panjang, terjadi
pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan
bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melengkapi satu sama lain sampai
2,5-5cm (1-2 inchi).
4.Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan,
teraba adanya derik tulang dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara
fragmen satu dengan lainnya. Uji kreptus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan
yang lebih berat.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal
pada kulit terjadi sebagi akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.
Tanda ini bisa baru terjadi setelah beberapa jam atau cedera.
C.Penatalaksanaan
Menurut Price, Sylvia Anderson, alih bahasa Peter
Anugerah, (1994:1187), empat konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu
menangani fraktur :
1. Rekognisi, menangani diagnosis pada tempat
kejadian kecelakaan dan kemudian dibawa ke rumah sakit.
2. Reduksi, reposisi fragmen-fragmen fraktur
semirip mungkin dengan keadaan letak normal, usaha-usaha tindakan manipulasi
fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak
asalnya.
3.Retensi, menyatakan metoda-metoda yang
dilaksanakan untuk menahan fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan.
4.Rehabilitasi, dimulai segera setelah dan
sesudah dilakukan bersamaan pengobatan fraktur, untuk menghindari atropi otot
dan kontraktur sendi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar