S1 KEPERAWATAN UNIJA....!!!!

Rabu, 19 November 2014

Gambaran Faktor Risiko dan Tipe Stroke pada Pasien Rawat Inap d i Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan Periode 1 Januari 2010 - 31 Juni 2012

Abstrak
Stroke merupakan penyakit akibat gangguan peredaran darah otak yang dipengaruhi oleh banyak faktor risiko terdiri dari yang tidak dapat diubah berupa usia dan jenis kelamin dan yang dapat diubah seperti hipertensi,peningkatan kadar gula darah, dislipidemia, dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui distribusi tipe stroke dan faktor risiko yang berpengaruh pada pasien stroke rawat inap di RSUD Kabupaten Solok Selatan.
 
Metode penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data skunder pasien stroke yang dirawat di RSUD Solok Selatan. Data yang diambil meliputi usia, jenis kelamin, tekanan darah, kadar gula darah, profil lipid saat pertama pasien masuk rumah sakit, dan pekerjaan. Sampel penelitian adalah seluruh pasien stroke yang pernah dirawat di Bagian
Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan pada periode 1 Januari 2010 – 31 Juni 2012 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan proporsi stroke terbanyak adalah stroke ischemic (61,46%), perempuan (54,17%) yang berusia >50 tahun (81,25%) yang bekerja sebagai ibu rumah tangga (43,75%). Faktor risiko yang dapat diubah tertinggi adalah hipertensi (82,30%) diikuti kolesterol total meningkat (69,79%). Faktor risiko tertinggi pada stroke ischemic adalah gula darah meningkat (47,89%) dan pada stroke hemorrhagic adalah hipertensi (100,00%). Faktor risiko tertinggi pada seluruh pasien adalah hipertensi (82,30%).

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa stroke tipe ischemic lebih banyak dari tipe hemorrhagic dengan faktor risiko utama hipertensi, sedangkan stroke ischemic terutama dipengaruhi oleh peningkatan gula darah.
 
Kata kunci
stroke ischemic, stroke hemorrhagic, faktor risiko stroke

Jumat, 03 Oktober 2014

prinsip bioetik

1    Pendekatan Bioetika
Etika keperawatan mengacu pada bioetik yang terdiri dari 3 pendekatan, yaitu :
a.    Pendekatan Teleologik
     Pendekatan teleologik adalah suatu doktrin yang menjelaskan fenomena dan akibatnya, dimana seseorang yang melakukan pendekatan terhadap etika dihadapkan pada konsekuensi dan keputusan – keputusan etis. Secara singkat, pendekatan tersebut mengemukakan tentang hal – hal yang berkaitan dengan the end justifies the ineans ( pada akhirnya, yang membenarkan secara hukum tindakan atau keputusan yang diambil untuk kepentingan medis ).
b.    Pendekatan Deontologik
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban. ‘Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai buruk’, deontologi menjawab : ‘karena perbuatan pertama menjadi kewajiban kita dan karena perbuatan kedua dilarang’.
Pendekatan deontologi berarti juga aturan atau prinsip. Prinsip-prinsip tersebut antara lain autonomy, informed consent, alokasi sumber-sumber, dan euthanasia.
Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban.
Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.
c.    Pendekatan Intiutionism
Pendekatan ini menyatakan pandangan atau sifat manusia dalam mengetahui hal yang benar dan salah.  Hal tersebut terlepas dari pemikiran rasional atau irasionalnya suatu keadaan.
2    Kasus Pendekatan Bioetika
a.    Pendekatan Teleologik
Contoh Kasus :
1.      Seorang perawat yang harus menghadapi kasus kebidanan karena tidak ada bidan dan jarak untuk rujukan terlalu jauh, dapat memberikan pertolongan sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya demi keselamatan pasien.
2.      Seorang anak mencuri untuk membeli obat ibunya yang sedang sakit. Tindakan ini baik untuk moral dan kemanusiaan tetapi dari aspek hukum tindakan ini melanggar hukum sehingga pendekatan teleologi lebih bersifat situasional, karena tujuan dan akibatnya suatu tindakan bisa sangat bergantung pada situasi khusus tertentu.
b.    Pendekatan Deontologik
Contoh Kasus :
1.    Seorang perawat dihadapkan pada kondisi yang su;it, dimana seorang pasien didiagnosa kanker darah putih (leukemia) stadium akhir.dan harus segara diberi tahukan kepada pasien dan keluarganya tentang penyakit yang diderita pasien. Dan dengan berat hati perawat mengatakan hal itu, agar pasien dan keluarganya  bisa mengambil tindakan selanjutnya.
2.    Jika seseorang diberi tugas dan melaksanakannya sesuai dengan tugas maka itu dianggap benar, sedang dikatakan salah jika tidak melaksanakan tugas.
3.    Kewajiban seseorang yang memiliki dan mempecayai agamanya, maka orang tersebut harus beribadah,  menjalankan perintah dan menjauhi laranganNya.
c.    Pendekatan Intiutionism
            Contoh Kasus :
1.    Seorang perawat sudah tentu mengetahui bahwa menyakiti pasien merupakan tindakan yang tidak benar.  Hal tersebut tidak perlu diajarkan lagi kepada perawat karena sudah mengacu pada etika dari seorang perawat yang diyakini dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan.

Keperawatan gerontik

A.      Pengertian Keperawatan Gerontik
Keperawatan Gerontik adalah Praktek perawatan yang berkaitan dengan penyakit pada proses menua (KOZIER, 1987). Menurut Lueckerotte (2000) keperawatan gerontik adalah ilmu yang mempelajari tentang perawatan pada lansia yang berfokus pada pengkajian kesehatan dan status fungsional, perencanaan, implementasi serta evaluasi.
B.       Fungsi Perawat Gerontik
Menurut Eliopoulous tahun 2005, fungsi perawat gerontologi adalah:
1.       Guide Persons of all ages toward a healthy aging process (Membimbing orang pada segala usia untuk mencapai masa tua yang sehat).
2.       Eliminate ageism (Menghilangkan perasaan takut tua).
3.       Respect the tight of older adults and ensure other do the same ( Menghormati hak orang dewasa yang lebih tua dan memastikan yang lain melakukan hal yang sama).
4.       Overse and promote the quality of service delivery (Memantau dan mendorong kualitas pelayanan).
5.       Notice and reduce risks to health and well being ( Memerhatikan serta mengurangi risiko terhadap kesehatan dan kesejahteraan).
6.       Teach and support caregives (Mendidik dan mendorong pemberi pelayanan kesehatan).
7.       Open channels for continued growth ( Membuka kesempatan untuk pertumbuhan selanjutnya).
8.       Listern and support (Mendengarkan dan memberi dukungan).
9.       Offer optimism, encourgement and hope (Memberikan semangat, dukungan dan harapan).
10.   Generate, support, use and participate in research (Menghasilkan, mendukung, menggunakan, dan berpatisipasi dalam penelitian).
11.   Implement restorative and rehabilititative measures (Melakukan perawatan restoratif dan rehabilitatif).
12.   Coordinate and managed care (Mengoordinasi dan mengatur perawatan).
13.   Asses, plan, implement and evaluate care in an individualized, holistic maner ( Mengkaji, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi perawatan individu dan perawatan secara menyeluruh).
14.   Link services with needs (Memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan).
15.   Nurtuere futue gerontological nurses for advancement of the speciality (Membangun masa depan perawat gerontik untuk menjadi ahli dibidangnya).
16.   Understand the unique physical, emotical, social, spritual aspect of each other (Saling memahami keunikan pada aspek fisik, emosi, sosial dan spritual).
17.   Recognize and encourge the appropriate management of ethical concern (Mengenal dan mendukung manajemen etika yang sesuai dengan tempatnya bekerja).
18.   Support and comfort through the dying process (Memberikan dukungan dan kenyamanan dalam menghapi proses kematian).
19.   Educate to promote self care and optimal independence (Mengajarkan untuk meningkatkan perawatan mandiri dan kebebasan yang optimal).
C.      Lingkup Keperawatan Gerontik
Lingkup asuhan keperawatan gerontik adalah pencegahan ketidakmampuan sebagai akibat proses penuaan, perawatan untuk pemenuhan kebutuhan lansia dan pemulihan untuk mengatas keterbatasan lansia. Sifat nya adalah independen (mandiri), interdependen (kolaborasi), humanistik dan holistik.

Jumat, 26 September 2014

OTITIS MEDIA AKUT



A.      Pengertian
OMA (Otitis Media Akut) adalah peradangan akut atau seluruh pericilium telinga tengah (Mansjoer, 2001)
OMA adalah peradangan telinga bagian tengah yang disebabkan oleh pejalaran infeksi dari tenggorok (farinitis) A sering terjadi pada anak-anak (Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas)
Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah (Kapita selekta kedokteran, 1999).

B.       Etiologi
Penyebabnya adalah bakteri piogenik seperti streptococcus haemolyticus, staphylococcus aureus, pneumococcus , haemophylus influenza, escherecia  coli, streptococcus anhaemolyticus, proteus vulgaris, pseudomonas aerugenosa.



C.       Manifestasi Klinis
Ø  Gejala klinis OMA tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien :
Ø  Biasanya gejala awal berupa sakit telinga tengah yang berat dan menetap
Ø  Biasa tergantung gangguan pendengaran yang bersifat sementara.
Ø  Pada anak kecil dan bayi dapat mual, muntah, diare, dan demam sampai 39,50oC, gelisah, susah tidur diare, kejang, memegang telinga yang sakit.
Ø  Gendang telinga mengalami peradangan yang menonjol.
Ø  Keluar cairan yang awalnya mengandung darah lalu berubah menjadi cairan jernih dan akhirnya berupa nanah (jika gendang telinga robek).
Ø  Membran timpani merah, sering menonjol tanpa tonjolan tulang yang dapat dilihat.
Ø  Keluhan nyeri telinga (otalgia), atau rewel dan  menarik-narik telinga pada anak yang belum dapat bicara.
Ø  Anoreksia (umum).
Ø  Limfadenopati servikal anterior


D.      Penatalaksanaan
Hasil penatalaksanaan otitis media bergantung pada efektifitas terapi ( e.g : dosis antibiotika oral yang diresepkan dan durasi terapi ), virulensi bakteri, dan status fisik klien.
Antibiotik dapat digunakan untuk otitis media akut. Pilihan pertama adalah Amoksisilin; pilihan kedua – digunakan bila diperkirakan organismenya resisten terhadap amoksisilin – adalah amoksisilin dengan klavulanat (Augmentin ; sefalosporin generasi kedua), atau trimetoprin sulfametoksazol. Pada klien yang alergi penisilin, dapat diberikan eritronmisin dan sulfonamide atau trimetoprim – sulfa.
.